Tugas Fistum
25 Desember 2013
Referensi :http://sektiono.blogspot.com/2009/10/mekanisme-tumbuhan-mempertahankan-diri.html
Mekanisme Tumbuhan Mempertahankan Diri Dari Serangan Patogen
Secara
umum tumbuhan dapat bertahan dari serangan patogen tersebut dengan
kombinasi sifat pertahanan diri yang dimilikinya, yaitu (1) sifat-sifat
struktural yang berfungsi sebagai penghalang fisik dan menghambat
patogen yang akan masuk dan berkembang di dalam tumbuhan, dan (2)
reaksi-reaksi biokimia yang terjadi di dalam sel dan jaringan tumbuhan
yang menhasilkan zat beracun bagi patogen atau menciptakan kondisi yang
menghambat pertumbuhan patogen pada tumbuhan tersebut. Kombinasi antara
sifat struktural dan reaksi biokimia yang digunakan untuk pertahanan
bagi tumbuhan berbeda antara setiap sistem kombinasi inang – patogen.
PERTAHANAN STRUKTURAL
Struktur Pertahanan sebelum ada Serangan Patogen
Garis
pertama pertahanan tumbuhan terhadap patogen adalah permukaan tanaman,
patogen mempenetrasi permukaan tanaman supaya dapat menyebabkan infeksi.
Pertahanan struktural terdapat pada tumbuhan bahkan sebelum patogen
datang dan berkontak dengan tumbuhan. Struktur-struktur tersebut
meliputi jumlah dan kualitas lilin dan kutikula yang menutupi sel
epidermis, ukuran, letak dan bentuk stomata dan lentisel, dan jaringan
dinding sel yang tebal yang menghambat gerak maju patogen.
Lilin pada permukaan daun dan buah membentuk permukaan yang dapat mencegah terbentuknya lapisan air (water-reppelent)
sehingga patogen tidak dapat berkecambah atau memperbanyak diri. Selain
itu terdapatnya bulu-bulu halus dan tebal pada permukaan tumbuhan
mungkin juga mempunyai pengaruh yang sama dengan efek penolak air
sehingga dapat menurunkan tingkat infeksi.
Kutikula
yang tebal dapat meningkatkan ketahanan tumbuhan terhadap infeksi
patogen yang masuk ke tumbuhan inang hanya melalui penetrasi secara
langsung. Akan tetapi ketebalan kutikula tidak selalu behubungan dengan
ketahanan tanaman karena ada beberapa varietas tanaman yang memiliki
lapisan kutikula tebal tetapi mudah terserang oleh patogen.
Ketebalan
dan kekuatan dinding bagian luar sel-sel epidermis nampaknya merupakan
faktor penting dalam ketahanan beberapa jenis tumbuhan terhadap
patogen-patogen tertentu. Sel-sel epidermis yang berdinding kuat dan
tebal akan membuat penetrasi secara langsung mengalami kesulitan atau
bahkan tidak mungkin dilakukan sama sekali oleh jamur pat
Struktur Pertahanan yang dibentuk sebagai Tanggapan terhadap Infeksi Patogen
Meski
pada tumbuhan terdapat pertahanan guna mencegah terjadinya serangan
patogen penyebab penyakit akan tetapi infeksi masih saja bisa terjadi.
Maka dari itu setelah patogen dapat mempenetrasi pertahanan struktural
yang ada pada tumbuhan, tumbuhan akan mampu membentuk struktur yang
berfungsi untuk bertahan dari serangan patogen tersebut.
Beberapa
jenis pertahanan struktural yang terbentuk melibatkan jaringan
disekitar jaringan tanaman yang terserang (bagian dalam tumbuhan) yang
biasa disebut struktur pertahanan jaringan (histologycal defense structure), yang melibatkan dinding sel yang terserang disebut struktur pertahanan sel (cellular defense structure), dan yang melibatkan sitoplasma sel yang terserang prosesnya dinamakan reaksi pertahanan sitoplasma (cytoplasmic defense reaction).
Dengan demikian adanya kematian sel yang terserang oleh patogen dapat
melindungi tumbuhan dari serangan selanjutnya oleh patogen tersebut. Hal
demikian biasa disebut nekrotik atau reaksi pertahanan hipersensitif (hypersensitive defense reaction).
Struktur Pertahanan Jaringan
Pembentukan Lapisan Gabus (Cork Layer).
Infeksi inang oleh patogen penyebab penyakit sering menyebabkan
tumbuhan membentuk beberapa lapisan yang terdiri dari sel-sel gabus di
depan titik infeksi sebagai akibat rangsangan terhadap sel-sel inang
oleh zat yang disekresikan patogen. Lapisan gabus menghambat serangan
patogen dari awal luka dan juga menghambat penyebaran zat beracun yang
mungkin disekresikan patogen. Lapisan gabus menghentikan hara dan air
dari bagian yang sehat ke bagian terinfeksi dan memisahkan patogen dari
tempat hidupnya. Jaringan yang mati termasuk patogennya selanjutnya
dibatasi oleh lapisan gabus dan patogen tetap berada pada tempat yang
membentuk nekrosis atau ditekan keluar oleh jaringan sehat dibawahnya
dan membentuk kudis yang mungkin mengelupas sehingga memisahkan patogen
dari inangnya.
Pembentukan Lapisan Absisi (abscission layers). Lapisan absisi terbentuk pada daun muda yang aktif setelah infeksi oleh patogen. Lapisan
absisi terdiri dari celah antara dua lapisan sirkuler sel daun yang
mengelilingi lokus infeksi. Pada infeksi lamela tengah antara dua
lapisan sel tersebut menjadi larut dari keseluruhan ketebalan daun
sehingga memotong areal pusat infeksi dari bagian sisa daun. Secara bertingkat bagian tersebut mengerut/layu, mati dan mengelupas, dan patogen ikut terbawa pada bagian tersebut.
Pengendapan getah atau blendok (gums).
Berbagai jenis getah dapat dihasilkan oleh tumbuhan disekitar luka oleh
infeksi patogen. Dengan adanya getah tersebut terbentuk penghalang yang
tidak dapat dipenetrasi oleh patogen sehingga patogen menjadi
terisolasi dan tidak bisa memperoleh nutrisi dan lama kelamaan akan
mati.
Struktur Pertahanan Seluler
Melibatkan
perubahan morfologi di dalam dinding sel atau perubahann yang berasal
dari dinding sel yang diserang oleh patogen. Namun mekanisme pertahanan
ini memiliki kemampuan yang terbatas. Ada
tiga jenis utama struktur pertahanan seluler yaitu; (1) terjadi
pembengkakan pada lapisan terluar dinding sel yang disertai dengan zat
berserat (amorphous) yang dapat mencegah bakteri memperbanyak diri. (2)
dinding sel yang menebal sebagai respon terhadap beberapa jenis virus
dan jamur patogen. (3) kalosa palpila yang terdeposit pada sisi bagian
dalam dinding sel sebagai respon terhadap serangan jamur patogen.
Reaksi Pertahanan Sitoplasmik
Pada
beberapa jenis sel yang terserang oleh jamur patogen sitoplasma dan
intinya membesar. Sitoplasma menjadi granular dan keras dan muncul
berbagai partikel atau berbagai bentuk didalamnya akhirnya miselium
patogen terurai dan infeksi berhenti.
Reaksi Pertahanan Nekrotik: Pertahanan melalui Hipersensitivitas
Pada
proses infeksi patogen, patogen mempenetrasi dinding sel, setelah
patogen berkontak dengan protoplasma sel inti bergerak kearah serangan
patogen dan segera terdisintegrasi/pecah dan berbentuk bulat berwarna
coklat di dalam sitoplasma. Pertama-tama keadaan tersebut
mengelilingi patogen patogen dan kemudian keseluruhan sitoplasma. Pada
saat sitoplasma berubah warna menjadi coklat dan akhirnya mati hifa yang
menyerang mulai mengalami degenerasi. Hifa tidak dapat tumbuh ke luar
sel yang terserang dan serangan selanjutnya akan terhenti. Jaringan yang
mengalami nekrotik akan mengisolasi parasit obligat dari substasnsi
hidup disekitarnya sehingga dapat menyebabkan patogen mati.
PERTAHANAN METABOLIK (BIOKIMIA)
Ketahanan
tumbuhan terhadap serangan patogen tidak hanya bergantung pada
penghalang struktural saja, pada beberapa jenis tumbuhan terdapat zat
yang dihasilkan oleh sel sebelum atau sesudah terjadi infeksi. Terbukti
dengan adanya jenis tumbuhan yang tidak terdapat sistem pertahanan
struktural namun tidak terdapat infeksi dari patogen penyebab penyakit.
Pertahanan Kimia Sebelum ada Serangan Patogen
Inhibitor yang Dilepaskan oleh Tumbuhan ke Lingkungannya
Tumbuhan
mengeluarkan berbagai zat baik dari bagian tumbuhan di atas tanah
maupun melalui permukaan akarnya. Beberapa zat yang dikeluarkan oleh
tumbuhan memiliki daya hambat terhadap patogen-patogen tertentu.
Pertahanan dengan Tidak Terdapatnya Faktor-faktor Esensial
Tidak ada Pengenalan antara Inang dan Patogen. Spesies
atau varietas tumbuhan tertentu mungkin tidak dapat diinfeksi oleh
patogen jika permukaan selnya tidak mempunyai faktor pengenal-spesifik (specific recognition factor)
yang dapat dikenali oleh patogen. Jika patogen tidak mengenal tumbuhan
sebagai salah satu tumbuhan inangnya, maka patogen mungkin tidak jadi
menyerang tumbuhan tersebut atau mungkin patogen tidak menghasilkan
zat-zat infeksi.
Kekurangan Reseptor dan Bagian yang Sensitif Inang terhadap Toksin. Pada
kombinasi inang – patogen, patogen biasanya menghasilkan toksik
spesifik – inang, toksik tersebut bertanggung jawab terhadap gejala yang
akan dihasilkan dan bereaksi terhadap dengan bagian sensitif atau
bagian reseptor tertentu di dalam sel. Hanya tumbuhan yang mempunyai
reseptor atau bagian sensitif yang menjadi sakit.
Tidak ada Hara-hara Esensial bagi Patogen. Varietas
tumbuhan karena beberapa sebab manghasilkan suatu zat esensial untuk
bertahan hidup bagi parasit obligat sehingga varietas tersebut tahan
terhadap serangan patogen.
Inhibitor yang Terdapat dalam Sel Tumbuhan Sebelum Infeksi. Beberapa
senyawa fenolik dan tanin terdapat dalam konsentrasi tinggi dalam sel
daun atau buah yang masih mudadan diperkirakan bertanggung jawab dalam
ketahanan jaringan yang masih muda tersebut terhadap mikroorganisme
patogenik.
Ketahanan Metabolik yang Disebabkan oleh Serangan Patogen
Inhibitor Biokimia yang Dihasilkan Tumbuhan Dalam Responnya terhadap Kerusakan Patogen. Sel
dan jaringan tumbuhan bereaksi terhadap kerusakan, baik yang disebabkan
oleh patogen atau agensia mekanik dan kimia, melalui serangkaian reaksi
biokimia yang ditujukan untuk mengisolasi gangguan dan menyembuhkan
luka. Reaksi tersebut sering berhubungan dengan reaksi fungitoksis di
sekeliling tempat pelukaan sepertihalnya pembentukan lapisan jaringan
perlindungan seperti kalus dan gabus.
Pertahanan melalui peningkatan kadar senyawa fenolik.
Senyawa fenolik terdapat pada tumbuhan sehat maupun sakit. Peningkatan
kadar senyawa fenolik seringkali terjadi lebih cepat setelah terjadi
infeksi pada varietas tahan. Senyawa fenolik yang terdapat pada tumbuhan
tidak sehat tetapi dihasilkan setelah terjadi infeksi ialah
fitoaleksin. Fitoaleksin dihasilkan oleh sel sehat yang berdekatan
dengan sel-sel rusak dan nekrotik untuk mencegah patogen berkembang.
Pertahanan melalui Pembentukan Substrat yang Menolak Enzim Patogen. Ketahanan
tumbuhan terhadap beberapa jenis patogen ialah akibat dari adanya
senyawa-senyawa yang tidak mudah diuraikan oleh enzim-enzim patogen.
Senyawa-senyawa tersebut merupakan bentuk komplek antara pektin, protein
dan kation polivalen seperti kalsium atau magnesium. Senyawa-senyawa
tersebut dapat menghambat pertumbuhan patogen sehingga mengakibatkan
luka yang terbatas.
Pertahanan Melalui Inaktivasi Enzim Patogen. Beberapa
jenis senyawa fenolik dan hasil oksidasinya dapat menghasilkan
ketahahnan terhadap penyakit melalui reaksi penghambatan enzim
pektolitik dan enzim patogen yang lain.
Pertahanan melalui Pelepasan Sianida Fungitoksis dari Kompleks Non-Toksis. Beberapa
jenis tumbuhan sianogenik glikosida atau ester sianogenik yang bersifat
tidak beracun di dalam sel selama senyawa tersebut terpisah dari
enzim-enzim hidrolitik tertentu. Akan tetapi apabila sel tersebut
dirusak secara fisik sehingga membrannya terganggu dan kandungan selnya
bercampur, maka enzim hidrolitik bercampur dengan kompleks sianogenik
dan dapat menghasilkan senyawa toksin sianida yang beracun bagi sebagian
besar organisme dan mikroorganisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar