Metabolit Sekunder
Rabu, 25 Desember 2013
Tumbuhan secara alamiah menghasilkan beragam jenis
senyawa. Secara umum, senyawa-senyawa tersebut dapat dibagi tiga, yaitu
metabolit primer, polimer, dan metabolit sekunder. Metabolit primer
adalah senyawa-senyawa yang terdapat pada semua sel dan memegang peranan
sentral dalam metabolisme dan reproduksi sel-sel tersebut. Contoh
metabolit primer antara lain asam nukleat, asam amino, dan gula. Polimer
adalah senyawa penyusun sel yang terdiri dari senyawa yang memiliki
berat molekul yang tinggi, seperti selulosa, lignin, dan protein.
Metabolit sekunder adalah senyawa yang secara khusus terdapat pada jenis
atau spesies tertentu saja (Hanson, 2011).
Berbeda dengan senyawa metabolit primer yang pada
umumnya memberi pengaruh biologi terhadap sel atau organisme tanaman itu
sendiri, metabolit sekunder (MS) memberikan pengaruh biologi terhadap
sel atau organisme lain. Menurut Wink (2010) metabolit sekunder bukanlah
produk buangan yang tak berguna, tetapi perangkat yang penting untuk
melawan herbivora dan mikroba. Beberapa metabolit sekunder berfungsi
sebagai molekul isyarat untuk menarik arthropoda penyerbuk, hewan
penyebar benih, dan sebagai senyawa isyarat dalam hubungan
tanaman-tanaman, tanaman-binatang, dan tanaman-mikrobia.
Senyawa metabolit sekunder banyak sekali
jumlahnya. Menurut Springob dan Kutchan (2009), ada lebih dari 200000
struktur produk alamiah atau produk metabolit sekunder. Untuk
memudahkan, perlu dibuat klasifikasi.
Ada beberapa cara klasifikasi bisa dibuat, seperti
berdasarkan sifat struktur, asal-usul biosintesis, atau lainnya.
Berdasarkan sifat strukturnya, Hanson (2011 membagi MS ke dalam 6
golongan, yaitu 1) poliketida dan asam lemak, 2) terpenoid dan steroid,
3) fenilpropanoid, 4) alkaloid, 5) asam amino khusus dan peptida, dan 6)
karbohidrat khusus.
Berdasarkan asal-usul biosintesisnya, Springob dan
Kutchan (2009) membagi MS menjadi empat kelompok, yaitu 1) alkaloid, 2)
fenilpropanoid, 3) poliketida, dan 4) terpenoid. Berdasarkan kandungan
N, Wink (2010) membagi MS ke dalam dua kelompok besar, yaitu1) MS yang
mengandung N dan 2) MS yang tidak mengandung N. Kelompok pertama dibagi
lagi menjadi 7 anak kelompok, dan kelompok kedua dibagi lagi menjadi 10
anak kelompok. Pembagian dan jumlah MS dapat dilihat pada Tabel 1.
Table 1. Kelompok metabolit sekunder dan jumlahnya pada tanaman tingkat tinggi
|
Jenis metabolit sekunder |
Jumlaha |
|
Mengandung Nitrogen |
|
|
Alkaloid |
21 000 |
|
Asam amino bukan protein |
700 |
|
Amina |
100 |
|
Glikosida sianogenik |
60 |
|
Glucosinolat |
100 |
|
Alkamida |
150 |
|
Lektin, peptida, polipeptida |
2000 |
|
Tanpa Nitrogen |
|
|
Monoterpen (C10)b |
2500 |
|
Sesquiterpen C15)b |
5000 |
|
Diterpen (C20)b |
2500 |
|
Triterpen, steroid, saponin (C30, C27)b |
5000 |
|
Tetraterpen (C40)b |
500 |
|
Flavonoid, tannin |
5000 |
|
Fenilpropanoid, lignin, coumarin, lignan |
2000 |
|
Poliacetilen, asam lemak, lilin |
1500 |
|
Poliketida |
750 |
|
Karbohidrat, asam organik |
200 |
aPerkiraan jumlah dari struktur yang diketahui.
bTotal jumlah terpenoid melebihi 22000 saat ini.
Sumber: Wink (2010)
Biosintesis Metabolit sekunder
Ada 2 lintasan biosintesis MS. Pertama adalah
lintasan metabolisme dasar seperti glikolisis dan siklus Krebs. Kedua
adalah lintasan shikimate. Lintasan metabolisme dasar dan shikimate
(Wink, 2010) masing-masing dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.
Gambar 1. Lintasan metabolisme dasar dari sintesis metabolit sekunder (Wink, 2010)
Gambar 2. Lintasan shikimate sintesis metabolit sekunder (Wink, 2010)
Poliamina
Poliamina adalah senyawa polikation berberat molekul
rendah yang ditemukan dalam semua makhluk hidup (Kaur-Sawhney, 2003;
Kusano, 2008), seperti bakteri, jamur, hewan, dan tanaman tingkat tinggi
(Baron dan Stasolla (2008). Dilihat dari strukturnya, poliamina
termasuk dalam golongan amina. Namun, secara fisiologis, poliamina bisa
dimasukkan ke dalam golongan alkaloid (Harbone, 1984; Robert, 2010).
Secara kimiawi, poliamina merupakan senyawa organik yang mempunyai dua atau lebih gugus amino utama –NH2, dapat berupa senyawa sintetik dan juga alami. Senyawa poliamina sintetik termasuk etilen diamine H2N–CH2–CH2–NH2, 1,3-diaminopropane H2N–(CH2)3–NH2, dan hexamethylenediamine H2N–(CH2)6–NH2. Senyawa poliamina alami meliputi putrescine H2N–(CH2)4–NH2, cadaverine H2N–(CH2)5–NH2, spermidine H2N–(CH2)4–NH–(CH2)3–NH2, and spermine H2N–(CH2)3–NH–(CH2)4–NH–(CH2)3–NH2n (Wikipedia, 2012). Struktur molekul poliamina alami dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Molekul Poliamina (sumber: Oryza, 2012)
Pada sel tumbuhan poliamina terdapat terutama dalam
bentuk diamine putrescine (Put), triamine spermidine (Spd), dan
tetramine spermine (Spm)( Kaur-Sawhney (2003; Vadim, 2009). Poliamina
ini ada dalam bentuk bebas atau sebagai konjugat yang terikat pada asam
fenolik dan pada senyawa berberat molekul rendah lain atau pada
makromolekul seperti protein dan asam nukleat (Kaur-Sawhney, 2003)
Groppa dan Benavides (2007) menyatakan bahwa Put,
SPd, dan Spm merupakan Poliamina utama yang dijumpai pada semua sel
makhluk hidup. Senyawa ini merupakan senyawa nitrogen alifatik yang
bermuatan positif pada pH fisiologis. Sifatnya ini memungkinkan
poliamina berinteraksi dengan makromolekul yang bermuatan negatif,
seperti DNA dan RNA, protein dan fosfolipid.
Menurut Kusano (2008) awal penemuan poliamina adalah
sekitar tahun 1678 ketika ditemukan kristal tiga sisi pada semen
manusia. Karena banyak terdapat dalam sperma, maka senyawa ini dinamai
dengan spermine. Spermidine pertama ditemukan pada pankreas. Spermine
dan spermidine bertanggung jawab pada bau khas dari semen. Dua senyawa
lainnya putrescine dan cadaverine ditemukan pada bakteri dekomposisi.
Biosintesis Poliamina
Pada tanaman, poliamina terdapat dalam sitoplasma,
vakuola, mitokondria dan kloroplas. Sintesis poliamina dimulai dari dua
molekul prekursor asam amino, yaitu L-arginine dan L-methionine (Kusano,
2008).
Ada dua lintasan alternatif. Lintasan pertama,
dimulai dari arginine. Kemudian, diamine putrescine disintesis melalui
ornithine oleh arginase dan ornithine dekarboksilase. Putrescine dapat
juga disintesis melalui agmatine oleh tiga reaksi berantai yang
dikatalisir masing-masing oleh enzim arginine dekarboksilase, agmatine
iminohydrolase, dan N-carbamoylputrecine amidohydrolase. Putrescine
dikonversi menjadi spermidine oleh aksi spermidine sintase. Lintasa
kedua, dimulai dari methionin kemudian diubah menjadi
S-adenosylmethionine dua reaksi yang berurutan oleh methionine
adenosyltransferase dan S-adenosylmethionine dekarboksilase (Kusano,
2008)
Secara ringkas, poliamina disintesis dari arginine
dan ornithine oleh arginine decarboxylase dan orthinine decarboxylase.
Senyawa antara agmatine, yang disintesis dari arginine, diubah menjadi
Put, yang kemudian ditransformasi menjadi Spd dan Spm . Untuk lebih
jelasnya, lintasan biosintesis Poliamina dapat dilihat pada Gambar 4
(Kaur-Sawhney, 2003). Biosisntesis alternative, methionin diubah menjadi
S-adenosylmethionine oleh methionine adenosyltransferase dan
S-adenosylmethionine dekarboksilase kemudian terbentuk spermidine dan
berikutnya spermine (Kusano, 2008). Lintasan biosintesis poliamina dapat
dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Lintasan biosintesis poliamina pada tumbuhan (Kaur-Sawhney, 2003).
Peran dan Kegunaan Poliamina
Dari beberapa macam pendekatan dan bukti yang ada,
poliamina terlibat dalam banyak proses di dalam tanaman. Proses tersebut
berupa 1) proses fisiologis pertumbuhan dan perkembangan dan 2) proses
pertahanan dan kelangsungan hidup.
Pada proses pertumbuhan dan perkembangan, poliamina
terlibat dalam beragam proses seperti replikasi DNA, transkripsi gen,
pembelahan sel, perkembangan organ, perkembangan dan pemasakan buah,
senescence daun (Kaur-Sawhney, 2002; Groppa dan Benavides, 2007; Kusano,
2008; Gilli dan Tusteja , 2010). Baron dan Stasolla (2008) memberikan
daftar yang lebih panjang lagi terhadap keterlibatan poliamina dalam
proses fisiologis tumbuhan. Proses tersebut meliputi pembelahan sel,
embriogenesis, organogenesis, perkembangan bintil akar, perkembangan
bunga, buah, dan polen, senescence, perkecambahan benih, sintesis
alkaloid tropane, dinamisasi sitoskeletal, respons stres, fotosintesis,
dan berinteraksi dengan hormon. Kusano (2008) menambah daftar peran
poliamina, termasuk regulasi ekspresi gen, translasi, proliferasi sel,
modulasi signaling sel, dan stabilisasi membran. Poliamina juga
memodulasi aktivitas unit tertentu dari saluran ion.
Poliamina juga terlibat dalam proses pertahanan dan
kelangsungan hidup. Peran poliamina ini terlihat pada tumbuhan yang
mengalami cekaman, baik cekaman abiotik maupun cekaman biotik
((Kaur-Sawhney, 2002; Groppa dan Benavides, 2007; Kusano, 2008; Gilli
dan Tusteja , 2010). Pada cekaman abiotik, seperti salinitas,
kekeringan, suhu ekstrem, hipoksia, dan malnutrisi, tanaman banyak
mengakumulasi poliamina. Pada cekaman biotik, seperti serangan hama dan
penyakit, tanaman juga meresponsnya dengan meningkatkan konsentrasi
poliamina dalam sel pada jaringan yang terserang (Baron dan Stasolla
(2008) ); Kusano, 2007).
Dari segi manfaatnya, poliamina dapat digunakan untuk
penanda kanker dan penemuan obat anti kanker. Menurut Vadim (2009)
poliamina terlibat dalam sejumlah reaksi biokimia dan digunakan sebagai
penanda kanker dan analognya digunakan sebagai obat anti kanker.
Dalam dunia farmasi dan kecantikan, poliamina diklaim
dapat memberberikan banyak manfaat. Oryza (2011) menyebutkan bahwa
poliamina dapat mencegah arteriosceloris, merangsang pertumbuhan rambut
dan kuku, merangsang keratinocytes dan keratin serta berperan sebagai
anti aging.
Peran Poliamina terhadap Cekaman Abiotik
Palavan-Ünsal (1995) menyatakan bahwa tanaman tingkat
tinggi yang terpapar kondisi lingkungan yang suboptimal atau tercekam
meresponsnya dengan mengakumulasi Putrescin dalam konsentrasi tinggi.
Pengamatan ini awalnya dimulai oleh Richards dan Coleman tahun 1952 pada
tanaman barley yang ditanam pada kultur hidroponik yang kekurangan ion K+.
Sejak itu, kondisi cekaman lain juga menunjukkan akumulasi putrescin,
antara lain kekurangan air, konsentrasi osmotik internal dan eksternal
yang tinggi, konsentrasi NH4+ yang tinggi, H+ dan konsentrasi kation monovalen lainnya, larutan ambien, polutan SO2, O3, Pb2+, suhu rendah, dan suhu tinggi.
Groppa dan Benavides (2008) mereview peran poliamina
terhadap salinitas, kekeringan dan stres osmotik. Mereka menyatakan
bahwa cekaman garam dan kekeringan adalah dua cekaman abiotik utama di
bidang pertanian dan rendahnya potensi air merupakan konsekuensi umum
dari keduanya. Salinitas merupakan kendala lingkungan yang kompleks yang
disebabkan oleh dua hal, yakni 1) komponen osmotik karena penurunan
potensi osmotik eksternal dari larutan tanah dan 2) komponen ionik yang
terkait dengan akumulasi ion beracun pada konsentrasi tinggi (terutama
Na dan Cl). Konsentrasi garam yang tinggi mengganggu integritas membran
sel, aktivitas berbagai enzim dan fungsi aparatus fotosintesis.
Tanaman menanggapi perubahan kondisi lingkungan yang
kurang menguntungkan ini dengan mengakumulasi senyawa osmolit berberat
molekul rendah seperti prolin dan poliamina. Sampai saat ini, masih
belum jelas komponen stres garam yang mana yang bertanggung jawab
terhadap akumulasi poliamina, apakah komponen osmotik ataupun komponen
ionik, meski banyak laporan telah mencoba untuk menjelaskan petunjuk
penting ini selama bertahun-tahun. Demikian pula, belum jelas benar
poliamina yang mana yang paling berperan pada kondisi stres ? apakah
putrescin, spermidin, atau spermin.
Pengukuran kandungan poliamina pada beberapa kultivar
padi menunjukkan bahwa kultivar padi yang toleran garam mempertahankan
taraf poliamina yang tinggi, yaitu spermidin (Spd) dan spermin (Spm),
sedangkan kultivar padi sensitif garam hanya mempertahankan putrescin
(Put) yang tinggi. Kultivar toleran garam AU1, Co43, dan CSC1 efektif
dalam mempertahankan konsentrasi Spd dan Spm yang tinggi, sedangkan
kandungan Putrescin tidak signifikan berubah pada analisis pertumbuhan
ketika tanaman terpapar salinitas.
Sensitivitas terhadap garam pada padi dikaitkan
dengan tingginya akumulasi putrescin dan rendahnya Spd dan Spm dalam
tunas kultivar sensitif garam Co36 CSC2, GR3, IR20, TKM4, dan TKM9 pada
kondisi salin. Membran plasma akar kultivar padi toleran garam Nonabokra
dan Pokkali kaya akan Spm dan Spd, sedangkan membran plasma akar
kultivar sensitif (M-1-48 dan IR8) hanya kaya akan Put.
Kelihatannya Spd dan Spm berperan terhadap komponen
osmotik dan responsnya lebih lama sedangkan Put lebih berperan terhadap
komponen ionik yang beracun dan responsnya lebih cepat tetapi sementara.
Pada penelitian menggunakan NaCl (100 dan 200 mM) dan mannitol (200 dan
400 mM) pada kalus Fraxinus angustifolia, ditemukan bahwa dalam
waktu singkat (30 menit) Put dan Spd meningkat sebagai konsekuensi dari
perlakuan garam, dan akumulasi yang terus berlanjut dari Spd dan Spm
akibat mannitol.
Poliamina kemungkinan besar berperan dalam menambah
rigiditas permukaan membran mikrosomal, menstabilkannya terhadap NaCl
dan stres osmotik. Lebih lanjut, konsentrasi poliamina yang lebih tinggi
yang terikat pada membran mikrosomal kemungkinan dapat mengurangi
pengaruh buruk dari NaCl dan kekurangan air.
Dalam kaitannya dengan kekeringan, kelihatannya
spermidin lebih berperan, diikuti spermin. Ada penelitian yang
melaporkan bahwa Spd merupakan poliamina utama dalam jaringan yang
tercekam kekeringan. Penelitian pada akar kecambah chickpea dan kedelai
berumur 7 hari yang diperlakukan dengan cekaman kekeringan 0,8 MPa,
menunjukkan bahwa total dan individu poliamina lebih tinggi pada
chickpea dibanding kedelai. Tanaman chickpea lebih tahan kekeringan dan
mengandung lebih banyak Put dan Spd dibanding tanaman kedelai. Kecambah
barley yang diperlakukan dengan Spd sebelum periode kekurangan air mampu
mengembalikan peningkatan aktivitas enzim katalase dan peroksidase
guaiaco, yang mengindikasikan bahwa Spd dapat mempengaruhi aktivitas
enzim penangkap H2O2, dan memoderatkan taraf molekul isyarat ini.
Tanaman padi merespons kekeringan dengan meningkatkan Put endogen,
tetapi tidak cukup tinggi untuk dikonversi menjadi Spd dan Spm.
Sebaliknya, tanaman padi transgenik (Datura adc) menghasilkan Put yang
lebih tinggi pada cekaman kekeringan sehingga memacu sintesis Spd dan
Spm, kemudian melindungi tanaman dari cekaman kekeringan.
Kusano et al. (2008) lebih jauh mengelaborasi peran
poliamina terhadap stres abiotik, khususnya kekeringan. Pada tanaman
Arabidopsis, mutan acl5/spms, yang tak mampu memproduksi spermin,
menunjukkan hipersensitif terhadap stres garam dan kekeringan dibanding
tanaman normal. Fenotipe stres sensitif ini dapat pulih dengan
penambahan poliamina eksogen, yaitu putrescin untuk sensitif garam dan
spermin untuk sensitif kekeringan. Tanaman Arabidopsis mutan acl5/spsm
ini juga hipersensitif terhadap KCl dan tanaman ini juga kekurangan Ca2+. Dari fenomena ini, dapat disimpulkan bahwa kekurangan spermin dapat menyebabkan ketidakteraturan keluar-masuknya ion Ca2+,
yang mengakibatkan berkurangnya daya adaptasi terhadap tingginya NaCl
dan stres kekeringan. Konsisten dengan data yang ada, poliamina,
termasuk spermin, juga dilaporkan menghambat pembukaan stomata dan
menginduksi penutupannya. Baru-baru ini juga dilaporkan bahwa poliamina
mencegah aliran K+.
Gill dan Tuteja (2010) mengelaborasi aplikasi
poliamina eksogen terhadap cekaman kekeringan. Banyak bukti
mengindikasikan bahwa aplikasi poliamina eksogen dapat menstabilkan
membran sel tanaman dan melindunginya dari kerusakan akibat kondisi
stres. Poliamina juga diindikasikan ikut berperan dalam menjaga
integritas membran. Pemberian Putrescin eksogen terbukti dapat
mengurangi kerusakan oksidatif akibat genangan air pada Allium fistulosuma
dengan meningkatnya kapasitas antioksidan. Ditemukan juga bahwa
aplikasi Put eksogen menyebabkan berkurangnya kandungan senyawa radikal
superoksida O2 dan H202, sehingga mengurangi stres oksidatif pada sel tanaman.
Produksi Poliamina
Konsentrasi poliamina dalam sel normal tumbuhan ada
pada rentang dari beberapa ratus mikromolar sampai beberapa milimolar.
Konsentrasi ini diatur secara ketat, karena pada taraf yang lebih
tinggi, poliamina bersifat racun terhadap sel dan bisa menyebabkan
kematian sel (Kusano, 2008). Kekecualian ada pada sel kanker. Pada sel
kanker, konsentrasi poliamina melebihi konsentrasi pada sel normal
(Yatin, 2002). Pengaturan konsentrasi poliamina dalam sel kelihatannya
dilakukan tanaman pada beberapa tahapan proses produksi poliamina.
Produksi Poliamina dalam tumbuhan ditentukan oleh
empat hal, yaitu sintesis, penyerapan, transpor, dan degradasi (Yatin,
2002;Kusano, 2008). Namun demikian, penyerapan dan transpor poliamina
belum dapat dipertimbangkan dalam proses produksi karena kedua proses
tersebut belum diketahui secara detail. Kusano (2008) menyatakan bahwa
transpor poliamina pada tumbuhan masih dalam bentuk hipotesis. Demikian
pula halnya, poliamina degradasi, mekanismenya masih belum cukup jelas.
Untuk poliamina penyerapan, Yatim (2002) menyatakan bahwa poliamina
penyerapan dan poliamina sintesis dapat saling disubstitusi. Oleh karena
itu, untuk saat ini, pertimbangan bagi produksi poliamina hanyalah dari
sisi sintesisnya.
Pada tahap sintesis, produksi poliamina kemungkinan
dapat dimanipulasi dengan berbagai cara antara lain dengan memanipulasi
bahan baku, produk antara, enzim-enzim yang terlibat, dan faktor
lingkungan yang mempengaruhi produksi poliamina dalam lintasannya,
terutama faktor cekaman biotik dan abiotik. Namun demikian, pemilihan
bahan baku dan paparan terhadap cekaman merupakan pendekatan yang lebih
praktis.
Beberapa jenis tanaman secara alamiah mengandung
banyak poliamina di dalam sel dan jaringannya. Menurut Okamoto (1997)
dan Oryza (2011) gandum, kedelai dan turunannya, serta teh mengandung
banyak poliamina. Kandungan poliamina pada berbagai jenis bahan pangan
yang berasal dari tumbuhan disajikan pada Gambar 5.
Paparan tumbuhan pada berbagai cekaman juga merupakan
pilihan yang rasional. Banyak penelitian telah membenarkan bahwa
cekaman biotik dan abiotik meningkatkan kandungan poliamina dalam
tumbuhan. Bentuk cekaman dapat berupa salinitas, kekeringan, suhu
ekstrem, hipoksia, dan malnutrisi, serta serangan hama dan penyakit
(Alcazar, 2006; Kusano, 2007). Namun demikian Selmar (2007) mengingatkan
bahwa peningkatan kandungan metabolit sekunder, termasuk poliamina
lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Hal ini dikarenakan
umumnya tanaman dalam keadaan tercekam pertumbuhan dan produksi total
biomassanya rendah, sehingga secara kuantitatif trade off dengan tingginya kandungan metabolit sekunder.
Gambar 5. Kandungan Poliamina dalam jenis pangan dan minuman (Oryza 2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar